Finansial

Gen Z Pilih Emas dan Tabungan, Bukan Saham: Alasan Psikologisnya dan Apakah Itu Pilihan Paling Cerdas?

3 Juli 2026

A golden piggy bank surrounded by assorted coins, symbolizing savings and wealth.
Foto: Atlantic Ambience / Pexels

Mayoritas Gen Z Indonesia memilih emas dan tabungan sebagai investasi utama — bukan saham atau reksa dana. Pilihan ini bukan irasional, tapi ada alasan psikologis di baliknya, sekaligus peringatan yang perlu didengar.

Kenapa Gen Z Jauhi Risiko?

Gen Z masuk usia produktif tepat saat pandemi COVID-19 dan gelombang inflasi sesudahnya — menyaksikan PHK massal dan bisnis tutup mendadak. Dalam psikologi keuangan, trauma di usia pembentukan ini punya nama: scarring effect atau cohort effect. Generasi yang merasakan krisis di masa muda cenderung menghindari risiko seumur hidup, bahkan ketika kondisi sudah pulih.

Ditambah konsep loss aversion dari riset Daniel Kahneman dan Amos Tversky: rasa sakit kehilangan uang secara psikologis terasa dua kali lebih kuat dibanding kesenangan mendapatkan jumlah yang sama. Bagi yang baru punya penghasilan pertama, koreksi pasar bukan sekadar angka — rasanya seperti kegagalan personal.

Emas punya daya tarik tersendiri: nyata, bisa dipegang, dan secara budaya sudah dipercaya lintas generasi di Indonesia. Platform digital seperti Pegadaian Digital juga bikin hambatan masuk nyaris hilang — beli emas kini bisa dengan nominal di bawah harga kopi kekinian.

Cerdas, Tapi Tidak Cukup

Emas dan tabungan bukan pilihan yang salah — tapi ada jebakan besar di dalamnya. Gen Z Pilih Emas dan Tabungan, Bukan Saham: Alasan Psikologisnya dan Apakah Itu Pilihan Paling Cerdas?

Yang bekerja dengan baik:

  • Emas terbukti mempertahankan nilai saat inflasi tinggi dan ketidakpastian geopolitik
  • Likuiditas relatif tinggi, tidak berkorelasi langsung dengan pasar saham — cocok sebagai hedge
  • Tidak ada risiko kebangkrutan seperti pada saham atau obligasi korporasi

Yang sering diabaikan:

  • Emas tidak menghasilkan yield — tidak ada bunga, dividen, atau arus kas
  • Secara historis, imbal hasil saham jangka panjang mengalahkan emas secara signifikan
  • Emas perhiasan punya spread harga beli-jual lebar — sudah "rugi" sejak membeli
  • Bunga tabungan hampir pasti kalah dari inflasi jika laju kenaikan harga lebih tinggi dari suku bunga deposito

Artinya: portofolio yang hanya berisi emas dan tabungan berpotensi stagnan secara real setelah dipotong inflasi.

Cara Membangun Portofolio yang Lebih Seimbang

Tidak harus memilih antara "aman" dan "tumbuh". Berikut pendekatan bertahap yang bisa dicoba:

  • Pisahkan dana darurat dari investasi. Tabungan di rekening bank adalah dana darurat — idealnya setara tiga hingga enam bulan pengeluaran — bukan instrumen investasi. Mencampurkan keduanya adalah jebakan umum.
  • Emas sebagai komponen, bukan segalanya. Literatur perencanaan keuangan umumnya menyarankan alokasi sepuluh hingga dua puluh persen aset investasi ke safe haven. Lebih dari itu, potensi pertumbuhan terlewat. Pilih emas batangan atau emas digital, bukan perhiasan, agar tidak ada biaya pembuatan yang menguap saat dijual.
  • Reksa dana sebagai jembatan. Reksa dana indeks menyebarkan risiko ke banyak saham sekaligus dan bisa dimulai dengan nominal kecil. Reksa dana pasar uang juga bisa jadi alternatif tabungan dengan imbal hasil lebih kompetitif.
  • Dollar-cost averaging (DCA) untuk saham. Beli dalam jumlah tetap secara rutin — tanpa peduli harga naik atau turun — terbukti mengurangi risiko masuk di waktu yang salah. Tidak perlu timing the market, cukup konsisten.
  • Obligasi Negara Ritel (ORI/SBR). Sering terlupakan, padahal menawarkan kepastian imbal hasil dengan risiko sangat rendah karena dijamin pemerintah. Secara psikologis mirip tabungan, tapi dengan potensi imbal hasil lebih menarik — langkah transisi ideal bagi yang belum siap dengan volatilitas saham.

Defensif Boleh, Tapi Jangan Mandek di Sini

Gen Z yang memilih emas dan tabungan bukan bodoh — mereka rasional berdasarkan pengalaman hidup. Melindungi modal adalah langkah defensif yang sah di tengah ketidakpastian.

Masalah muncul ketika strategi defensif ini jadi permanen. Inflasi bekerja diam-diam setiap hari, dan portofolio yang stagnan bisa kalah darinya dalam jangka panjang — terutama untuk tujuan besar seperti beli rumah atau pensiun yang layak. Risiko terbesar justru adalah tidak mengambil risiko sama sekali: daya beli terkikis pelan-pelan tanpa terasa.

Emas boleh tetap ada di portofolio — tapi jangan biarkan ia sendirian menanggung beban masa depan.

By Tim Redaksi LewatManaAI-Assisted

Artikel ini ditulis dengan bantuan AI dan telah ditinjau serta diverifikasi faktanya oleh redaksi LewatMana.

Artikel terkait