Kota & Budaya

Hidup di Atas Air: Komunitas Kampung Apung Jakarta yang Bertahan di Tengah Gentrifikasi

27 Juni 2026

Drone shot of vibrant fishing boats and watercrafts in Cilincing, Jakarta.
Foto: Vincent Tan / Pexels

Jauh sebelum Jakarta punya nama resmi, komunitas nelayan sudah membangun kehidupan di atas air pesisir utara Jawa. Warga yang sudah menetap beberapa generasi menyebut diri mereka bukan pendatang — melainkan yang pertama datang. Pondasi dari kayu bakau dan bambu, tatanan sosial yang terbentuk sendiri tanpa peraturan daerah, dan laut sebagai pusat segala sesuatu. Kampung apung bukan anomali Jakarta; ia cikal bakalnya.

Tiga Lapis Tekanan yang Berlapis

Bertahan di kampung apung bukan satu perkara, melainkan tiga sekaligus:

  • Fisik: Banjir rob datang lebih sering dan lebih dalam. Rumah yang dulu hanya sedikit basah kini bisa terendam lutut tanpa hujan sama sekali.
  • Administratif: Banyak warga hidup tanpa kepastian legalitas tanah. Tanpa sertifikat, akses ke kredit usaha dan renovasi resmi tertutup — makin terasa saat nilai lahan di sekitar mereka melonjak.
  • Kultural: Pengetahuan soal arus laut, jenis ikan, dan cara memperbaiki mesin perahu yang diwariskan dari mulut ke mulut perlahan putus, seiring remaja kampung beralih ke pekerjaan di daratan.

Dijepit dari Dua Sisi

Reklamasi pesisir utara Jakarta telah mengubah garis pantai secara fundamental — pulau-pulau buatan kini nyata, membawa hunian mewah dan mal yang asing bagi nelayan yang hafal celah-celah karang di sana. Normalisasi sungai, yang dalam narasi resminya bertujuan mengatasi banjir, memisahkan warga dari air dengan beton: yang tadinya sumber kehidupan kini jadi batas.

Dua proses ini berjalan ke arah yang sama — memeras ruang dari dua sisi sekaligus. Ironinya, kawasan yang dulu diabaikan sebagai "tak layak huni" justru kini sangat bernilai secara ekonomi. Gentrifikasi di kota pesisir tidak selalu datang lewat kafe artisanal; kadang ia datang dalam bentuk proyek reklamasi triliunan rupiah.

Yang Hilang Tidak Bisa Dipindah ke Lantai Delapan

Kampung apung bukan sekadar permukiman di pinggir air. Di dalamnya bergerak ekosistem ekonomi organik: nelayan kecil Muara Baru menjadi bagian rantai pasok ikan ke seluruh Jakarta, perempuan pengolah ikan menggerakkan industri rumahan, mekanik perahu hingga pedagang es balok saling menopang — semuanya nyata, tapi tak tercatat dalam statistik formal mana pun.

Pola yang berulang di kota-kota pesisir seluruh dunia hampir selalu sama: warga yang dipindah ke rusunawa kehilangan akses ke laut, jaringan sosial, dan mata pencaharian yang tidak bisa begitu saja dipindahkan ke lantai delapan. Nelayan yang dipindah bukan sekadar berpindah tempat tinggal — ia kehilangan identitasnya. Jakarta kehilangan memori hidupnya sendiri setiap kali sebuah kampung apung menghilang.

Tidak ada jawaban mudah — kota ini memang butuh infrastruktur lebih baik dan pengelolaan banjir yang lebih efektif. Tapi pembangunan yang mengabaikan komunitas yang sudah ada bukan pembangunan; itu penggusuran dengan nama lain. Pertanyaan yang perlu diajukan dengan sungguh-sungguh: Bagaimana kita membangun bersama mereka, bukan di atas mereka? Selama itu belum terjawab, warga Muara Baru akan terus melakukan apa yang sudah mereka lakukan selama generasi: bertahan.

By Tim Redaksi LewatManaAI-Assisted

Artikel ini ditulis dengan bantuan AI dan telah ditinjau serta diverifikasi faktanya oleh redaksi LewatMana.

Artikel terkait