Keselamatan & Otomotif

Jalan Berlubang Bukan Cuma Bikin Rusak Ban — Ini Efeknya ke Tubuhmu

27 Juni 2026

Drone shot of a car on a rural road surrounded by lush greenery in Kjellerup, Denmark.
Foto: Airam Dato-on / Pexels

Ban bocor dan velg peyang memang menyebalkan — tapi keduanya masih bisa diperbaiki di bengkel terdekat. Yang jauh lebih sulit diperbaiki adalah tulang belakang yang sudah aus, saraf tangan yang terjepit, atau konsentrasi yang terkuras habis di tengah lalu lintas padat. Ironisnya, risiko itu datang dari hal yang sama: jalan berlubang yang tiap hari dilalui begitu saja.

Tubuhmu Adalah Peredam Kejut Paling Lemah

Setiap kali roda motor menghantam lubang atau aspal bergelombang, suspensi hanya menyerap sebagian benturan. Sisanya merambat naik — ke setang, ke sadel, dan langsung ke tulang belakang pengendara.

Para ahli ergonomi menyebut fenomena ini whole-body vibration (WBV): getaran mekanis berulang yang diterima seluruh tubuh. Dalam dosis kecil dan sesekali, tubuh masih bisa menoleransinya. Tapi kalau ini terjadi setiap hari selama berjam-jam — persis seperti rutinitas driver ojol, kurir, atau komuter jarak jauh — ceritanya berbeda.

Yang membuat WBV berbahaya bukan intensitasnya per kejadian, tapi akumulasinya. Tubuh tidak pernah sempat pulih sepenuhnya sebelum paparan berikutnya datang. Inilah yang bikin kerusakannya diam-diam dan sering terlambat disadari.

Tiga Dampak yang Menumpuk Tanpa Suara

Dampak Kesehatan Akibat Jalan Berlubang

Tulang belakang menanggung beban paling berat. Komponen kuncinya adalah cakram intervertebralis — bantalan alami yang berada di antara tiap ruas tulang belakang. Tidak seperti jaringan tubuh lain, cakram ini tidak punya suplai darah langsung; ia "makan" melalui tekanan mekanis yang berganti-ganti secara normal saat tubuh bergerak.

Getaran konstan dari jalan rusak mengacaukan mekanisme ini. Tekanan abnormal yang datang berulang bikin tiga masalah muncul sekaligus — dan saling memperparah:

  • Degenerasi cakram lebih cepat — bantalan aus jauh sebelum usia seharusnya
  • Hernia nukleus pulposus (HNP) — cakram menonjol dan menekan saraf di sekitarnya, yang umum dikenal sebagai saraf kejepit
  • Nyeri punggung bawah kronis — bukan pegal biasa yang hilang setelah tidur, melainkan yang terus kambuh dan makin parah

Gejalanya datang perlahan dan sering disalahartikan. Banyak pengendara menganggapnya "pegal biasa" selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum rasa sakitnya benar-benar mengganggu aktivitas.

Pergelangan tangan diam-diam ikut terkikis. Saat berkendara di jalan rusak, tangan refleks mencengkeram setang lebih kuat untuk menjaga kendali. Lakukan itu berulang kali setiap hari, dan hasilnya adalah repetitive strain injury (RSI) — cedera jaringan akibat gerakan atau tekanan yang terus-menerus sama.

Pada kasus yang lebih serius, tekanan berulang di posisi yang sama bisa berujung pada carpal tunnel syndrome: peradangan yang menyempitkan terowongan tempat saraf median melintas di pergelangan tangan. Gejalanya khas — kesemutan, mati rasa, atau sensasi seperti tersengat listrik dari ibu jari hingga jari tengah, biasanya memburuk di malam hari atau setelah berkendara lama.

Konsentrasi adalah korban yang paling jarang dibicarakan, padahal dampaknya paling langsung berbahaya di jalan. Ketika tubuh terus sibuk merespons guncangan — menyeimbangkan postur, mengencangkan otot inti, mengantisipasi lubang berikutnya — otak ikut terlibat secara tidak sadar dalam semua proses motorik itu.

Energi kognitif yang idealnya fokus memantau lalu lintas jadi tersedot untuk urusan yang bahkan tidak terasa seperti "berpikir". Hasilnya adalah mental fatigue yang datang lebih cepat dari biasanya. Di lalu lintas kota Indonesia yang padat, penuh kendaraan yang bisa muncul dari mana saja, pikiran yang terlambat satu detik saja sudah bisa berarti banyak.

Siapa yang Paling Rentan?

Singkatnya, tidak semua orang menanggung risiko yang sama. Besar-kecilnya tergantung beberapa faktor yang saling menumpuk:

  • Durasi harian — semakin lama di atas motor, semakin besar paparan kumulatif
  • Kondisi rute — jalan yang konsisten rusak parah jauh lebih berbahaya dibanding lubang yang sesekali dijumpai
  • Postur berkendara — punggung bungkuk dan tangan terlalu tegang memperparah penyerapan getaran ke tubuh
  • Kondisi suspensi — suspensi yang sudah aus meneruskan lebih banyak benturan langsung ke pengendara
  • Kondisi fisik dan usia — yang sudah punya riwayat masalah tulang belakang atau sendi jauh lebih rentan terhadap kerusakan lebih lanjut

Driver ojol dan kurir yang bekerja seharian penuh, enam hingga tujuh hari seminggu, dengan rute yang melintasi jalanan rusak secara konsisten, ada di kelompok risiko tertinggi. Ini bukan soal pilihan gaya hidup — ini soal kondisi kerja yang paparan risikonya belum banyak disadari.

Yang Masih Bisa Dikontrol

Kondisi infrastruktur jalan mungkin bukan sesuatu yang bisa diubah besok pagi. Tapi ada beberapa hal yang masih sepenuhnya dalam kendali pengendara:

  • Servis suspensi rutin — jangan tunggu amblas atau berbunyi; suspensi yang melemah meneruskan lebih banyak getaran
  • Cek tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan — terlalu kempes atau terlalu keras sama-sama buruk untuk meredam benturan
  • Perbaiki postur — punggung tegak, siku sedikit menekuk sebagai penyerap kejut, bokong penuh di sadel
  • Pakai sarung tangan berpadding — bantalan di telapak membantu meredam getaran sebelum mencapai pergelangan
  • Istirahat tiap sekitar satu jam — turun sebentar, regangkan punggung dan pergelangan; cukup untuk memutus akumulasi
  • Kenali sinyal bahaya — kesemutan yang tak hilang, nyeri punggung rutin setelah berkendara, atau pegal leher "langganan"; jangan tunda ke dokter

Kerusakan akibat getaran kronis memang tidak dramatis — efeknya menumpuk pelan-pelan. Justru karena itu, mencegah jauh lebih murah daripada mengobati: rawat motornya, perbaiki posturnya, dan jangan abaikan sinyal kecil dari tubuh.

Jalan berlubang bukan cuma masalah ban. Tubuh yang menanggungnya setiap hari adalah taruhannya.

By Tim Redaksi LewatManaAI-Assisted

Artikel ini ditulis dengan bantuan AI dan telah ditinjau serta diverifikasi faktanya oleh redaksi LewatMana.

Artikel terkait