Keselamatan & Otomotif
Jalan Berlubang Bukan Cuma Bikin Rusak Ban — Ini Efeknya ke Tubuhmu
27 Juni 2026

Setiap hari, jutaan pengendara motor di Indonesia melewati jalan yang sama: retak di sana, lubang di sini, tambalan aspal yang lebih mirip gundukan. Keluhan yang muncul biasanya seputar ban bocor atau velg peyang. Tapi dokter ortopedi dan ahli ergonomi punya cerita yang jauh lebih serius — satu yang melibatkan tulang belakang, saraf tangan, dan kemampuan otak untuk tetap waspada.
Ini bukan soal dramatisasi. Ini soal sebuah risiko yang sudah terlalu lama dianggap wajar karena dialami hampir semua orang.
Tubuh Kamu Adalah Peredam Kejut yang Paling Lemah
Ketika motor melewati jalan berlubang atau permukaan yang tidak rata, suspensi kendaraan menyerap sebagian benturan — tapi tidak semuanya. Sisanya diteruskan ke rangka motor, lalu ke tangan yang menggenggam setang, ke bokong yang bertumpu di jsadel, dan akhirnya ke seluruh tulang belakang pengendara.
Para ahli ergonomi menyebut ini sebagai whole-body vibration (WBV) — getaran yang merambat ke seluruh tubuh secara berulang dan terus-menerus. Dalam dosis kecil dan sesekali, tubuh bisa mengatasinya. Masalah muncul ketika paparan ini berlangsung setiap hari, berjam-jam, tanpa henti — persis seperti yang dialami driver ojek online, kurir, atau komuter motor jarak jauh.
Tulang Belakang: Organ yang Paling Menanggung Beban
Dokter ortopedi menjelaskan bahwa tulang belakang manusia memiliki bantalan alami bernama cakram intervertebralis (diskus) yang berfungsi meredam tekanan. Cakram ini tidak memiliki pembuluh darah langsung — nutrisinya bergantung pada gerakan dan tekanan yang berganti-ganti secara normal, seperti saat berjalan.
Getaran mekanis yang konstan dari jalan rusak justru memberikan tekanan yang tidak normal dan berulang pada cakram tersebut. Akibatnya:
- Degenerasi cakram lebih cepat — cakram yang seharusnya aus perlahan di usia tua bisa mulai bermasalah jauh lebih awal.
- Hernia nukleus pulposus (HNP) — kondisi di mana cakram "menonjol" keluar dan menekan saraf. Ini yang biasa disebut awam sebagai "saraf kejepit."
- Nyeri punggung bawah kronis — bukan nyeri biasa yang hilang setelah istirahat, melainkan yang terus datang kembali dan makin memburuk seiring waktu.
Yang membuat kondisi ini berbahaya: gejalanya datang perlahan. Pengendara sering kali mengabaikannya sebagai "pegal biasa" selama berbulan-bulan sebelum rasa sakitnya benar-benar mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pergelangan Tangan dan Tangan: Diam-Diam Terkikis
Setang motor adalah titik kontak langsung antara pengendara dan getaran jalan. Saat jalan tidak rata, tangan — khususnya pergelangan — bekerja keras menstabilkan arah sekaligus meredam guncangan yang lolos dari suspensi.
Tekanan berulang pada pergelangan tangan dalam posisi yang sama dalam waktu lama bisa memicu carpal tunnel syndrome — peradangan pada terowongan sempit di pergelangan tangan yang dilewati saraf median. Gejalanya: kesemutan, mati rasa, atau rasa seperti tersengat listrik di jari-jari, terutama ibu jari hingga jari tengah.
Ahli ergonomi juga menunjukkan bahwa cengkeraman terus-menerus pada setang yang bergetar mengaktifkan otot-otot lengan bawah secara konstan. Otot yang tidak pernah benar-benar beristirahat ini lambat laun mengalami kelelahan dan mikro-trauma yang terakumulasi — kondisi yang di dunia medis dikenal sebagai repetitive strain injury (RSI).
Konsentrasi: Bahaya yang Paling Sering Diabaikan
Efek getaran kronis tidak berhenti di sendi dan otot. Ada satu dampak yang jarang dibicarakan namun justru paling berbahaya di jalan raya: penurunan konsentrasi.
Ketika tubuh terus-menerus "sibuk" merespons getaran — menyeimbangkan postur, mengencangkan otot, mengantisipasi guncangan berikutnya — otak terbebani oleh proses motorik yang tidak disadari. Energi kognitif yang seharusnya digunakan untuk mengamati kondisi lalu lintas, mengantisipasi manuver kendaraan lain, atau membaca rambu jalan, sebagian dialihkan untuk tugas-tugas fisik yang seharusnya tidak perlu.
Hasilnya adalah kelelahan mental yang datang lebih cepat dari biasanya. Pengendara merasa "mengantuk" atau "tidak fokus" bukan semata-mata karena kurang tidur, melainkan karena sistem sarafnya sudah kelelahan jauh sebelum perjalanan selesai. Dalam konteks lalu lintas yang padat dan tidak terduga seperti di kota-kota besar Indonesia, ini adalah kombinasi mematikan.
Siapa yang Paling Berisiko?
Bukan berarti semua pengendara motor otomatis bernasib sama. Tingkat risiko sangat bergantung pada:
- Durasi berkendara harian — semakin panjang, semakin besar paparan getaran kumulatif.
- Kondisi jalan yang dilalui — rute yang didominasi jalan rusak, bergelombang, atau berlubang secara konsisten jauh lebih berbahaya daripada jalan mulus sesekali.
- Postur berkendara — postur yang salah (punggung membungkuk, tangan terlalu tegang, posisi duduk tidak tegak) memperparah penyerapan getaran oleh tubuh.
- Kondisi suspensi motor — suspensi yang sudah aus atau tidak pernah diservis meneruskan lebih banyak getaran ke pengendara.
- Usia dan kondisi fisik — pengendara yang lebih tua atau yang sudah memiliki masalah tulang belakang sebelumnya jauh lebih rentan.
Driver ojol dan kurir yang bekerja sepanjang hari, enam hingga tujuh hari seminggu, berada di kelompok risiko tertinggi.
Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan Sekarang
Tidak semua orang punya kendali atas kondisi jalan yang dilaluinya. Tapi ada beberapa hal yang bisa segera dilakukan untuk mengurangi dampak:
Periksa dan servis suspensi motor secara rutin. Suspensi yang berfungsi baik adalah pertahanan pertama. Jangan tunggu suspensi terasa "amblas" baru diperbaiki.
Sesuaikan tekanan ban. Ban yang terlalu kempes atau terlalu keras sama-sama buruk dalam meredam getaran. Ikuti rekomendasi pabrikan.
Perbaiki postur berkendara. Punggung tegak, siku sedikit menekuk (bukan kaku lurus), dan bokong bertumpu penuh di sadel — bukan melayang di ujung. Postur yang benar mendistribusikan getaran lebih merata ke seluruh tubuh, bukan menumpuknya di satu titik.
Gunakan sarung tangan berpadding. Sarung tangan khusus berkendara dengan bantalan di telapak tangan membantu meredam getaran sebelum sampai ke pergelangan tangan.
Istirahat setiap satu jam. Turun dari motor, regangkan punggung, goyangkan pergelangan tangan. Istirahat singkat memutus siklus kontraksi otot yang terus-menerus.
Kenali sinyal tubuh. Kesemutan di jari yang tidak hilang setelah istirahat, nyeri punggung bawah yang rutin, atau rasa pegal di leher setiap selesai berkendara adalah tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan. Segera konsultasikan ke dokter sebelum kondisinya memburuk.
Bukan Soal Lebay — Soal Investasi Jangka Panjang
Ada kecenderungan di kalangan pengendara motor — terutama yang sudah bertahun-tahun berkendara — untuk bangga pada kemampuan "tahan banting" mereka. Pegal dianggap normal. Kesemutan dianggap biasa. Nyeri punggung dianggap konsekuensi yang harus diterima.
Padahal yang sedang terjadi adalah kerusakan yang akumulatif dan diam-diam. Tidak terasa dramatis hari ini. Tapi lima atau sepuluh tahun dari sekarang, ketika dokter menyebut kata "degenerasi tulang belakang" atau "operasi carpal tunnel", semua perjalanan yang selama ini dianggap sepele itu akan terasa berbeda.
Jalan berlubang memang bukan salah pengendara. Tapi bagaimana tubuh kita dilindungi dari dampaknya — itu sepenuhnya ada di tangan kita sendiri.
By Tim Redaksi LewatManaAI-Assisted
Artikel ini ditulis dengan bantuan AI dan telah ditinjau serta diverifikasi faktanya oleh redaksi LewatMana.
Artikel terkait

Lampu Hazard Saat Hujan Itu Salah — Ini Alasan Logisnya
Menyalakan lampu hazard saat hujan deras terasa seperti tindakan yang bertanggung jawab — padahal justru sebaliknya. Ini penjelasan mengapa kebiasaan yang sudah mengakar ini diam-diam membahayakan semua orang di jalan.
27 Jun 2026

Blind Spot Truk di Tol: Kamu Tidak Terlihat dari Kabin, Bahkan Ketika Kamu Yakin Terlihat
Kami naik ke kabin truk peti kemas di Tol Jakarta-Cikampek dan mendokumentasikan langsung seberapa besar zona mati yang tak terlihat pengemudi — hasilnya jauh lebih mengejutkan dari yang kami bayangkan.
27 Jun 2026