Kota & Budaya

Dari Rawon Jadi Risotto: Saat Jajanan Kota Indonesia Bikin Dunia Penasaran

28 Juni 2026

Savor a delicious mixed plate featuring Indonesian street food with noodles, egg, and crispy elements.
Foto: Esase / Pexels

Bayangkan semangkuk risotto yang aromanya bukan keju parmesan, melainkan kluwek hitam pekat khas rawon Jawa Timur. Di atasnya, irisan daging sapi empuk dan taoge segar. Ini bukan eksperimen lab masak di hotel bintang lima — ini gerobak kecil di sudut kota, dijalankan anak muda berusia dua puluhan, dan antreannya mengular hampir setiap malam.

Inilah wajah baru kuliner jalanan Indonesia: berani, kreatif, dan tanpa minta izin siapa pun untuk jadi viral.

Ketika "Makanan Nenek" Bertemu Tren Global

Fusion food bukan hal baru di dunia. Tapi yang sedang terjadi di kota-kota besar Indonesia punya rasa tersendiri — harfiah maupun kiasan. Para pelaku UMKM kuliner muda ini tidak sekadar meniru tren dari luar negeri, mereka menerjemahkannya ke dalam bahasa rempah yang sudah akrab di lidah sejak kecil.

Hasilnya? Kreasi yang tak terduga namun entah kenapa terasa pas.

Papeda, bubur sagu khas Papua yang kenyal dan sering dianggap terlalu "berat" bagi selera kekinian, kini disajikan dalam mangkuk estetis bergaya poke bowl Hawaii — ditaburi potongan ikan kuah kuning, sambal colo-colo segar, dan irisan mangga muda. Fotogenik, lezat, dan penuh cerita budaya dalam satu sajian.

TikTok Jadi Dapur Kedua

Tak bisa dipungkiri, TikTok mengubah segalanya. Platform ini bukan hanya tempat berbagi video — ia adalah mesin penemuan rasa. Seorang penjual muda di Bandung yang merekam proses membuat cendol affogato — es cendol pandan disiram espresso panas — bisa mendadak punya ribuan pengikut baru dalam semalam.

Yang menarik, konten kuliner fusion Indonesia ini tidak hanya ditonton oleh penonton lokal. Komentar dari Malaysia, Singapura, bahkan Eropa dan Amerika Serikat ramai masuk, dipenuhi rasa penasaran dan emotikon tanda tanya yang bertanya, "Ini apa? Di mana bisa coba?"

Itulah kekuatan sebenarnya dari kreativitas kuliner kota Indonesia: ia berhasil membuat dunia penasaran hanya dengan satu video pendek dan satu frame yang menggugah selera.

UMKM Kecil, Dampak Besar

Di balik estetika konten yang memanjakan mata, ada cerita kerja keras yang sungguh menghangatkan hati. Banyak dari pelaku fusion food ini adalah anak muda yang merintis usaha dari dapur rumah, modal seadanya, dan keberanian yang lebih dari cukup.

Mereka bukan lulusan sekolah kuliner ternama. Mereka adalah penggemar makanan yang suatu hari memutuskan: "Kenapa tidak kucoba sendiri?"

Hasilnya bisa mengejutkan. Sebuah booth kecil di pasar kuliner malam yang menjual rendang quesadilla — tortilla renyah berisi rendang Padang dan keju leleh — bisa habis terjual dalam hitungan jam. Menu soto betawi ramen dengan mi tebal dalam kulit santan gurih juga tak kalah laris manis di pasar-pasar akhir pekan yang kini menjamur di berbagai kota.

Omzet yang dulunya hanya cukup untuk bertahan, kini perlahan mulai bisa untuk berkembang — membeli peralatan baru, menyewa tempat yang lebih layak, bahkan merekrut tetangga sekitar sebagai karyawan.

Jiwa Nusantara Tak Kemana-mana

Ada kekhawatiran yang kadang muncul: apakah fusion food ini justru menghapus identitas asli masakan Indonesia? Apakah rawon yang diubah jadi risotto masih bisa disebut rawon?

Jawabannya, ternyata, sangat melegakan.

Para kreator kuliner muda ini justru sangat sadar akan akar mereka. Mereka tidak mengganti kluwek dengan bahan lain hanya karena terdengar lebih "internasional". Mereka tidak membuang sambal dari dalam sajian hanya karena takut dianggap terlalu pedas. Justru sebaliknya — kluwek, sambal, kunyit, dan daun pandan adalah senjata utama mereka, dibungkus dalam tampilan yang lebih mudah diterima oleh lidah yang belum pernah mengenal masakan Nusantara sebelumnya.

Fusion di sini bukan penyerahan diri — ini adalah perkenalan yang penuh percaya diri.

Dari Warung ke Panggung Dunia

Kota-kota Indonesia — Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, Yogyakarta — sudah lama menjadi laboratorium kuliner yang sesungguhnya. Perpaduan budaya, migrasi antarprovinsi, dan semangat anak muda yang tak mau diam menjadikan setiap gang dan setiap pasar malam sebagai tempat eksperimen rasa yang tak ada habisnya.

Dan kini, dengan kamera smartphone dan koneksi internet, eksperimen itu bisa dilihat oleh siapa saja di seluruh penjuru dunia.

Siapa sangka bahwa rawon — hidangan yang sudah ada selama berabad-abad di meja makan keluarga Jawa Timur — suatu hari akan tampil di layar ponsel seseorang di Tokyo atau London, dan membuat mereka bergumam penasaran, "Saya ingin coba ini."

Selamat Berkreasi, Para Penjaga Rasa

Ada sesuatu yang sangat membahagiakan dari fenomena ini. Bukan semata soal viral atau omzet yang naik — meski keduanya tentu menyenangkan. Melainkan soal kepercayaan diri sebuah generasi yang akhirnya berani berkata: masakan kami layak dikagumi dunia, dalam versi kami sendiri.

Mereka tidak meminta validasi dari luar untuk merasa bahwa masakan Indonesia itu istimewa. Mereka cukup mengambil kluwek, menyalakan kompor, merekam hasilnya, dan membiarkan dunia yang datang penasaran.

Dan dunia pun datang.

Jadi, lain kali kamu melihat semangkuk sesuatu yang tampak asing tapi tercium sangat familiar — mungkin ada aroma kunyit, atau sedikit wangi daun salam — ambil fotonya, cicipi, dan rayakan. Karena di balik kreasi itu, ada anak muda Indonesia yang sedang membuktikan bahwa warisan rasa terbaik bukan yang disimpan dalam lemari kaca museum, melainkan yang terus hidup, berevolusi, dan bikin orang antre.

By Tim Redaksi LewatManaAI-Assisted

Artikel ini ditulis dengan bantuan AI dan telah ditinjau serta diverifikasi faktanya oleh redaksi LewatMana.

Artikel terkait